Bumi Tanpa Plastik

Banda Aceh – Unit kegiatan Mahasiswa Mapala Hukum, Haba Aneuk Hukoem (HAHoe), dan BEM FH Unsyiah mengadakan kegiatan Kampanye Peduli Lingkungan dengan tema "Bumi Tanpa Polusi Plastik" dalam rangka memperingati Hari Bumi 22 April 2018 di Lobby Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Senin (23/03/2018). Kegiatan ini dibuka langsung oleh Wakil Dekan I FH Unsyiah dan dihadiri oleh mahasiswa Fakultas Hukum, serta para pemenang lomba foto Se-Aceh yang merupakan rangkaian acara dari kegiatan memperingati hari bumi ini.
Rangkaian kegiatan tersebut terdiri dari pengambilan dokumentasi tentang sampah plastik di Aceh Besar dan Banda Aceh. Lomba foto Se-Aceh yang juga mengangkat tema tentang pencemaran sampah plastik, pembuatan Tong Amal Fakultas Hukum, dan Pameran Foto yang digelar di Lobby Fakultas Hukum Unsyiah.

Yang menarik dari acara ini adalah pembuatan Tong Amal Fakultas Hukum. Tong Amal ini merupakan sebuah tempat pembuangan sampah khusus sampah botol plastik. Nantinya, sampah botol plastik yang terkumpul akan dijual dan hasilnya akan disumbangkan kepada kegiatan-kegiatan amal, sehingga disebutlah tempat pembuangan sampah itu dengan "Tong Amal".
Miswari selaku ketua UKM Mapala berharap agar kedepannya dalam memperingati Hari Bumi, tidak hanya ada dua UKM yang terlibat, tetapi semua UKM Fakultas Hukum terlibat dan memberi peran bagi acara tersebut, tidak hanya memperingati Hari Bumi itu setiap tanggal 22 April saja, tetapi setiap hari itu adalah hari bumi dan peran kita sebagai mahasiswa tentunya meminimalisir adanya pencemaran sampah plastik di bumi ini, karena bumi beserta isinya adalah sesuatu yang sudah dititipkan kepada kita untuk dijaga.

Ketua BEM Fakultas Hukum Unsyiah, Bilhakki mengatakan, tahun ini Hari Bumi dilaksanakan dengan cara pelaksanaan yang berbeda. Yang biasanya hanya dilaksanakan oleh UKM Mapala, tetapi tahun ini BEM dan UKM HAHoe ikut serta dalam merayakan dan kampanye untuk bumi. "Tahun ini hari bumi diperingati dengan peresmian Tong Amal dan Pameran Foto dengan mengambil tema polusi plastik. mengapa polusi plastik, karena tahun ini menjadi genderang perang bagi dunia dari polusi plastik, khususnya plastik yang dibuang sembarangan" jelasnya. Ia menambahkan walau gerakan ini semakin besar dan "terlihat", tapi sebagian besar umat manuisa masih saja tetap memilih untuk menutup mata dan tetap melakukan banyak hal yang turut merusak lingkungan. Bilhakki berharap agar dengan usaha dan kegigihan para pejuang lingkungan, semua umat manusia dapat luluh dan menjadi peduli terhadap planet yang semakin menua ini.